Langsung ke konten utama

Khasiat Jahe Juga Bisa Bantu Menurunkan Berat Badan, Apa Lagi?

  Jahe merupakan rempah yang termasuk dalam keluarga Zingiberaceae. Bukan hanya cita rasanya yang mampu memberikan kehangatan alami pada tubuh, jahe juga miliki segudang khasiat sehat lain. Tanaman ini masih satu genus yang sama dengan kunyit, kapulaga, dan lengkuas.   Rimpang atau batang bawah tanah adalah bagian yang biasa digunakan sebagai bumbu sehingga sering disebut akar jahe. Jahe dapat digunakan secara langsung, kering, hingga bubuk. Rimpang ini merupakan bahan yang sangat umum digunakan dalam resep, bahkan tak jarang digunakan ke dalam bahan olahan kosmetik. Berikut 11 manfaat jahe untuk kesehatan yang didukung oleh penelitian ilmiah. Mengandung gingerol   Gingerol adalah senyawa bioaktif utama dalam jahe. Gingerol memiliki efek anti-inflamasi dan antioksidan yang kuat.   Di antara manfaat gingerol adalah dapat membantu mengurangi stres oksidatif , yang merupakan hasil dari kelebihan jumlah radikal bebas dalam tubuh.   Atasi mual  Jahe banyak dipercaya jadi obat mual. Bahka

Pentingnya deteksi Kanker sejak dini agar peluang sembuh lebih besar

 


Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP mengatakan awalnya gejala kanker paru kerap tidak terdeteksi sehingga penting mendeteksi dini kanker agar peluang sembuh kian besar.

"Gejala pada kanker paru seringkali tidak nampak pada stadium awal, data saat ini menunjukkan bahwa 60 persen pasien kanker paru datang dalam stadium lanjut," kata Aru di webinar kesehatan, Selasa.

Ia menjelaskan, seringkali kanker paru memiliki gejala yang serupa dengan penyakit umum lainnya seperti TBC, maka penting bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang faktor risiko, gejala, dan perawatan yang tersedia termasuk perawatan inovatif terkini sebagai harapan baru bagi pengobatan kanker paru.

Angka kematian akibat kanker paru kurang dari satu tahun di Indonesia terus meningkat sejak data Globocan 2018, padahal angka kematian akibat kanker paru untuk wilayah Asia secara keseluruhan justru mengalami penurunan sebanyak 3 persen.

Gejala awal kanker paru dapat berupa batuk terus-menerus, nyeri dada yang memburuk bersama pernapasan dalam, batuk, atau tertawa, suara serak atau sesak napas, penurunan berat badan dan kehilangan nafsu makan, batuk darah atau dahak yang berwarna karat, mudah lelah juga infeksi persisten, seperti bronkitis dan pneumonia.

Bila sudah berlanjut, seseorang akan merasakan nyeri tulang terutama di bagian punggung atau pinggul, mengalami perubahan neurologis seperti sakit kepala, kelemahan atau mati rasa dari tangan atau kaki, pusing, masalah keseimbangan atau kejang. Gejala lanjutan juga berupa penyakit kuning serta pembengkakan kelenjar getah bening.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018, angka kejadian kanker atau prevalensi di Indonesia meningkat mencapai 30 persen sejak tahun 2013 hingga 2018, sementara 58 persen prevalensi berada di kota-kota besar.

Adapun 85 persen sampai 95 persen kanker paru adalah dari jenis “kanker paru-paru bukan sel kecil” atau disebut juga dengan kanker sel gandum, terdiri atas 10 persen hingga 15 persen dari seluruh jenis kanker paru dengan sifat cenderung menyebar dengan cepat.

Aru menambahkan, kanker paru adalah jenis kanker yang kejadiannya paling tinggi pada laki-laki di Indonesia. Sebab, 95 persen kanker paru akibat lingkungan serta gaya hidup, dan kebiasaan merokok -dalam hal ini Indonesia menempati posisi nomor satu dalam jumlah perokok laki dewasa di dunia- serta polusi sekitar yang tinggi.

Para perokok disarankan untuk berhenti merokok secara total, bukan bertahap, untuk mengurangi risiko terkena kanker. Sebab, konsumsi rokok terlepas dari jumlahnya sedikit atau banyak tetap menimbulkan risiko penyakit yang sama. Gaya hidup sehat, mengurangi stres, rajin berolahraga sesederhana berjalan kaki 15 menit serta menjaga pola makan agar berat badan tetap ideal bisa mengurangi risiko kanker.

zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr zUcTFr

Komentar